Dalam kehidupan sehari-hari, kita pernah melakukan sebuah perjanjian/ kesepakatan baik itu disadari maupun tidak disadari, dalam bentuk tertulis maupun tidak tertulis. Perjanjian diatur dalam Buku ke-3 KUHPER

Perjanjian adalah kesepakatan antara dua orang atau lebih mengenai hal tertentu yang disetujui oleh para pihak. Dalam melaksanakan suatu perjanjian, seringkali terdapat pihak yang tidak memenuhi atau lalai dalam melaksanakan kewajibannya baik karena disengaja maupun tidak disengaja(cedera janji).

Menurut Pasal 1234 KUHPerdata wujud prestasi dapat berupa : memberikan sesuatu, berbuat sesuatu, tidak berbuat sesuatu. Apabila seorang yang telah ditetapkan prestasi sesuai dengan perjanjian namun tidak melaksanakan atau tidak memenuhi prestasi menurut ketentuan yang telah disepakati, maka orang tersebut melakukan wanprestasi.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita pernah melakukan sebuah perjanjian/ kesepakatan baik itu disadari maupun tidak disadari, dalam bentuk tertulis maupun tidak tertulis.

Dalam Undang-Undang No.18 Tahun 2003 tentang Advokat telah ditegaskan bahwa Advokat sebagai salah satu penegak hukum dan keadilan mempunyai peran dan fungsi yang setara dengan penegak hukum lainnya yakni Kepolisian, Kejaksaan, dan Kekuasaan Kehakiman. Advokatdikenal sebagai suatu profesi yang terhormat (Officium Nobile) dimana dalam menjalankan profesinya, advokat juga memilikikebebasan yang berdasarkan pada kehormatan dan kepribadianseorang Advokat. Dikatakan sebagai suatu profesi yang terhormat karena Advokat merupakan salah satu pilar dalam menegakkan supremasi hukum dan hak asasi manusia, serta mengupayakan pemberdayaan masyarakat dalam menyadari hak-hak yang dimilikinya di hadapan hukum.

Wanprestasi dapat berupa :

  • - Tidak melaksanakan apa yang telah diperjanjikan
  • - Melaksanakan perjanjian tapi tidak sebagaimana mestinya
  • - Terlambat dalam melaksanakan perjanjian
  • - Melakukan sesuatu yang menurut perjanjian tidak boleh dilakukan
  • Pihak yang dirugikan akibat adanya wanprestasi memiliki hak untuk menuntut pemenuhan perjanjian, pembatalan perjanjian ( Pasal 1266 KUHPerdata), atau meminta ganti kerugian pada pihak yang melakukan wanprestasi. Ketentuan mengenai ganti rugi diatur dalam Pasal 1246 KUHPerdata, yang terdiri dari tiga macam, yaitu: biaya, rugi dan bunga.

    Selanjutnya dalam Pasal 1238 jo Pasal 1243 KUHPer dapat diketahui bahwa tuntutan atas wanprestasi suatu perjanjian hanya dapat dilakukan apabila si berutang telah diberi peringatan bahwa ia melalaikan kewajibannya, namun kemudian ia tetap melalaikannya. Peringatan ini dilakukan secara tertulis, yang kemudian kita kenal sebagai somasi.